Pusat Studi Lingkungan & Kependudukan
Universitas Muhammadiyah Malang
Pusat Studi Lingkungan & Kependudukan
Universitas Muhammadiyah Malang

Wahyu Prihanta: Pentingnya Pencegahan Global Warming yang Berbasis Kearifan Lokal

Author : Administrator | Rabu, 16 November 2011 13:41 WIB
 
 Ilustrasi Global Warming (www.greenopolis.com)

Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merupakan implementasi dari salah satu tridarma perguruan tinggi, yakni pengabdian masyarakat. Saat ditemui di kantor PSLK, Selasa 8 November, Pak Wahyu Prihanta selaku ketua PSLK UMM sangat antusias menjelaskan kinerja PSLK selama ini. “Tentu saja, masalah global warming masih menjadi fokus utama kita saat ini,” tutur beliau. Bapak yang pernah menjadi relawan bencana tsunami Aceh ini, mengatakan bahwa agenda penanaman pohon saat ini belum maksimal. Hal ini disebabkan oleh tiga faktor: 1.) gerakan penanaman pohon hanya sebatas ceremonial saja, 2.) Jenis tumbuhan yang ditanam tidak cocok dengan lingkungannya, 3.) Waktu tanam yang tidak tepat.

        Hal ini disebabkan karena pola pikir manusia yang terlalu kompleks dalam menghadapi global warming. Lihat saja Jakarta, ibu kota negara ini sedang bersiap menghadapi banjir dengan membangun tanggul dan saluran air untuk mengahadapi musim hujan yang datang bulan ini. Sudah tak terhitung berapa banyak biaya dan teknologi canggih yang digunakan untuk mengatasi banjir di ibu kota. Tapi banjir selalu datang dan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah terasa sia-sia.

              Fenomena alam seperti banjir  memang tak bisa dielak, tapi kita sebagai manusia yang katanya memiliki ilmu dan dapat berifikir seringkali tidak bersahabat dengan alam. Manusia yang seharusnya bisa hidup berdampingan dengan alam, nyatanya lebih mementingkan urusan ekonomi dan pribadi mereka tanpa  peduli akan kerusakan alam.

Saat ini teknologi menjadi bagian dari kehidupan manusia, banyak hal yang bisa dilakukan. Namun, tidak semua urusan kehidupan bisa diselesaikan dengan teknologi. Rehabilitasi alam misalnya, penggunaan teknologi untuk memperbaharui alam memang bukan tindakan yang salah,tetapi belum tentu ini merupakan cara yang tepat. Ada ha-hal yang tidak bisa kita serahkan pada kecanggihan teknologi semata. Kerusakan alam yang disebabkan oleh manusia itu sendiri sebenarnya dapat kita selesaikan tanpa perlu teknologi yang canggih dan mahal.

Penjelasan Pak Wahyu mengenai permasalahan ini dapat memberikan pencerahan kepada kita semua. Sejak awal PSLK terbentuk pada tahun 2005 hingga saat ini, selalu mengangkat prinsip lokal dan humanis sebagai faktor utama dalam mengatasi permasalah lingkungan. Berbagai konservasi yang telah dibangun oleh PSLK, seperti konservasi bunga Jawa, konservasi kampung jawa, konservasi ikan, merupakan bentuk pelestarian ekosistem yang berbasis kearifan lokal.

Kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam terbukti sangat signifikan, pertama karena habitatnya cocok dengan lingkungan, kedua biaya perawatan yang relatif murah karena habitat yang mudah beradaptasi dengan lingkungan. Langkah-langkah ini dilakukan secara integratif dan continue, agar dapat memberikan efek jangka panjang yang baik. 

Kearifan lokal seharusnya dapat kita jadikan sebagai usaha menjaga dan melestarikan lingkungan yang telah terbukti sejak masa lalu. Upaya mengatasi kerusakan lingkungan ini dapat kita tunjukkan kepada dunia bahwa teknologi yang canggih sekalipun tidak akan dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang bersinergi dengan alam. Sehinggan perubahan itu dapat kita mulai dari sekarang dan di tempat dimana kaki kita berpijak.(db/jo/mza/IKOM/PR/2008)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image